Hunian Vertikal TOD Diprediksi Makin Marak Akibat Rupiah Melemah

Bagikan:

Alasan Tren Hunian Vertikal TOD Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah

Tren hunian vertikal TOD diperkirakan semakin masif ke depan, seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya konstruksi yang memaksa pengembang properti memutar otak agar harga jual tidak melonjak terlalu tinggi bagi konsumen. Hunian vertikal TOD sendiri merujuk pada apartemen maupun kondominium yang dibangun terintegrasi dengan simpul transportasi publik.

hunian vertikal TOD

Efisiensi Biaya Lewat Pembangunan Vertikal

Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia Milda Abidin menjelaskan bahwa pengembang dengan lahan di kawasan pusat bisnis cenderung mengarahkan produknya ke hunian bertingkat tinggi atau high-rise residential. Pendekatan ini dinilai lebih efisien karena biaya pembangunan dapat dibagi ke lebih banyak unit dalam satu kawasan, sehingga tidak langsung membebani harga jual per unit secara drastis dibandingkan membangun hunian tapak dengan biaya lahan yang terus meningkat.

Strategi vertikal ini menjadi semakin relevan mengingat harga tanah di kawasan perkotaan dan pusat bisnis terus mengalami kenaikan, sementara pelemahan rupiah turut mendorong biaya material bangunan yang sebagian bergantung pada komponen impor, seperti baja dan semen.

Manfaat Kedekatan dengan Transportasi Publik

Konsep Transit Oriented Development atau TOD sendiri dirancang untuk memaksimalkan kedekatan hunian dengan moda transportasi umum, seperti kereta maupun bus rapid transit. Kedekatan ini memberikan manfaat langsung bagi penghuni berupa efisiensi biaya transportasi harian, yang menurut Milda dapat dialihkan masyarakat untuk membayar cicilan hunian, terutama pada segmen apartemen dan kondominium di kawasan penyangga kota besar.

Segmen yang Paling Terdampak Berbeda-beda

Perlu dicatat bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap harga properti tidak merata di semua segmen. Segmen menengah dan menengah bawah dinilai lebih rentan terhadap kenaikan harga material konstruksi, sementara segmen apartemen kelas atas yang berorientasi investasi cenderung memiliki harga yang lebih stagnan karena karakteristik pasarnya yang berbeda. Sementara itu, material lokal seperti pasir dan batu bata dinilai relatif tidak terlalu terdampak fluktuasi nilai tukar karena diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.

Diversifikasi Investasi Anda Lewat Kos Mezzanine di Kawasan Strategis Malang

Logika efisiensi yang mendorong tren hunian vertikal TOD di kota-kota besar sebenarnya juga relevan bagi investor properti skala lebih kecil di Malang, terutama di tengah tekanan biaya konstruksi akibat pelemahan rupiah saat ini.

Garden Palma Luxury (GPL), salah satu proyek investasi milik Aura Group, misalnya menghadirkan instrumen investasi berupa kos mezzanine di kawasan Soekarno-Hatta, Malang, area yang selama ini dikenal padat aktivitas mahasiswa dan pekerja karena berdekatan dengan sejumlah kampus besar. Berbeda dari hunian vertikal TOD yang identik dengan apartemen skala besar, kos mezzanine ini dirancang sebagai instrumen passive income yang pengelolaan sewanya ditangani sepenuhnya oleh InapStay, sehingga pemilik tidak perlu direpotkan urusan operasional harian.

Baca Juga: Garden Palma Luxury: Kos Mezzanine Modern

FAQ
“Apakah unit di Garden Palma Luxury bisa dipakai sendiri sewaktu-waktu?”
Proyek ini dirancang murni sebagai instrumen investasi passive income yang dikelola InapStay, berbeda dari villa yang bisa dipakai sendiri seperti The Village Resort Batu.

Bagi Anda yang tertarik mendiversifikasi portofolio properti dengan instrumen yang lebih efisien dari sisi lahan dan pengelolaan, hubungi tim Garden Palma Luxury lewat WhatsApp untuk simulasi imbal hasil sewa terkini.

Sumber: CNBC: Perumahan TOD Bakal Menjamur

Bagikan: